Search
  • Momandkidsradio Momandkidsradio

MENGEMBANGKAN RELASI BERKUALITAS DALAM KELUARGA

Pandemi ini ternyata salah satu hikmah terbesar adalah kebersamaan kita dalam keluarga menjadi terbangun kembali, biasanya masing-masing sibuk dengan aktivitas, adanya pandemi cenderung mengkondisikan interaksi yang lebih intens (semisal : ibu/ayah mendampingi anak-anak belajar, kakak membantu adik belajar, ibu dan ayah lebih sering bersama2/lebih banyak berkomunikasi ketimbang sebelumnya, aktivitas di rumah seperti makan lebih sering dilakukan, ada kegiatan2 tambahan pengisi waktu usir kebosanan yang bisa membuat intensitas keluarga menjadi lebih baik.

Tapi tidak serta merta juga kuantitas pertemuan yang banyak menghasilkan kualitas tanpa paham bagaimana mengolahnya. Banyak juga yang akhirnya ‘jenuh’, stress dengan kebosanan, biasa hang out sekarang jadi harus stay at home, biasa anak2 belajar sama gurunya sekarang tetiba ibu/ayah harus banyak ikut campur, biasanya jarang bertemu sehingga tidak sempat berkonlfik sekarang menjadi lebih banyak konflik (konflik suami istri, ibu/ayah dengan anak-anak dan anak dengan anak lainnya).


Untuk apa kualitas keluarga ini diupayakan? jelas menjadi :

  • sumber kebahagiaan bagi setiap elemen dalam keluarga

  • menjadi recharger energi bagi seseorang agar bisa lebih kuat menghadapi tantangan kehidupan, sehingga lebih bisa memecahkan variasi tantangan kehidupan

  • keluarga adalah sumber rasa aman utama/pertama yang menjadi dasar bagi sso dalam berelasi dengan nyaman dengan lingkungan yang lebih luas,

Nah bagaimana tekniknya keluarga mengembangkan relasi yang berkualitas :


1. Koneksi yang akan mendukung relasi positif di antara keluarga :


Koneksi ini dibangun oleh orangtua (ayah/ibu) yang lebih memiliki kehangatan dan mudah menyesuaikan. Bangun koneksi individual (one to one interaction) dan kelompok dalam keluarga.

Koneksi awal sebetulnya terbangun dari relasi mutual trust ibu-anak pada 2 thn pertama kehidupan à keberhasilan membangun relasi yang menyenangkan pada usia ini menjadi fondasi dalam membangun koneksi di masa selanjutnya.

Koneksi juga dapat dilakukan dengan membangun jembatan, ibu menjadi jembatan relasi anak dengan ayahnya (atau sebaliknnya). Ibu menjadi jembatan relasi anak satu dengan anak lainnya.

Dalam koneksi, orangtua juga perlu memperhatikan adanya hubungan yang kurang terkoneksi antara satu anak dengan anak lainnya à seringkali diabaikan saja oleh orangtua, padahal seharusnya diatasi dengan peran ibu/ayah menjembatani relasi di antara sdr kandung. Masalah utamanya adalah sibling rivalry (persaingan sdr) yang terjadi dengan berbagai dinamika di keluarga. Semua anak intinya alami kecemburuan dengan sdr kandungnya, hanya frekuensi dan intensitasnya serta muncul atau tidaknya yang membedakan.

Tekniknya, selalu mengkoneksikan anak satu dengan anak lainnya, semisal : cerita tadi si abang jatuh lo nak, kasian abang .. kita doain abang ya biar segera sembuh. Kakak tadi senang banget dapat kado dari temannya, kita lihat yuu gmn perasaan Kaka yu

Jika ada hubungan yang tidak terkoneksi bahas bersama dengan anak, seringkali tidak disadari ada perasaan2 negatif/prasangka yang bermain (asumsi2) yang menyebabkan munculnya perasaan negative hingga mempengaruhi relasi yang buruk antara saudara.

Semisal : nak, ibu lihat kamu tadi pegang adiknya aga kenceng banget …. Wajahmu juga kelihatan berubah, apa yang kamu rasakan nak ?

Ibu lihat tadi kamu bicara dengan nada tinggi nak, apa yang membuatmu bicara dengan nada tinggi nak ?

Ayah lihat sudah 3 kali kamu pukul terus kakakmu, apa yang membuatmu memukul kakakmu nak ?

Dalam membangun koneksi à bantu anak menginterpretasi situasi atau konflik sdr yang dialami, bantu anak peka dengan saudaranya, memahami perspektif saudaranya (bisa dengan penjelasan kita atau mendorong dia bertanya pada saudaranya)

MIsalnya : Iya tadi Teteh tarik hpnya dengan keras, pasti ada perasaan enggak enak yang teteh rasakan, kita tanya teteh yu ….

Atau karena seringkali kertas teteh diambil, teteh jadinya simpan dan engga mau berbagi nak …… 2. Terapkan komunikasi positif dalam keluarga


perhatikan pilihan kata, nada suara/volume, ekspresi wajah atau gesture. Berikan perhatian penuh saat berbicara, minta tunda dengan lembut namun penuhi janji (jika mommy tidak bisa memberikan perhatian penuh saat itu). Bersikap terbuka untuk bahas hal2 sulit (emosi negative, perasaan buruk), berikan selalu kata2 positif …. Bunda sayang banget kamu nak (dengan tatapan penuh cinta).

Memperbanyak mendengar daripada bicara/menjelaskan.


3. Rules & Consequency


keluarga harus memiliki aturan yang jelas terutama berkaitan dengan saling menghargai anggota keluarga serta berbagi peran dalam keluarga.

Semisal : orangtua harus menjembatani jika sudah ada konflik yang mengarah pada kekerasan verbal/fisik, orangtua perlu merasakan emosi negatif yang ada, membantu anak menginterpretasi emosinya dan memilih reaksi yang lebih tepat

Jangan biarkan anak bicara kasar atau bertindak kasar dengan adik/kakaknya. Berikan konsekuensi, semisal : time out, menulis refleksi, menulis atau menggambar pengalaman, dlsb.


4. Everyone at home is very special for eachother


Orangtua perlu meng create ini agar setiap anak merasa diri unik mereka diterima penuh dalam keluarga secara adil. Orangtua harus menyadari adanya perasaan2 kecondongan dengan salah satu atau dua anaknya. Perasaan ini harus segera disadari, dibahas dengan suami atau konsultasi dengan psikolog karena akan menjadi bibit munculnya konflik dalam keluarga. Kunjungi setiap anak sebelum tidur, meksi hanya 2-3 menit untuk membangun perhatian khusus pada mereka individual satu per satu. Akui perbedaan masing2 dalam bakat, kemampuan dan gunakan kekuatannya masing2 …. Misalnya : abang ternyata bisa damping ade belajar ya, bisa pelan suaranya.


5. Family Time



(mengaji/sholat berjamaah, permainan, rekreasi, olahraga, memasak bersama-sama keluarga dan meeting/rapat keluarga). Biasakan ada kegiatan rapat dalam keluarga untuk membahas hal2 penting dalam keluarga, misalnya mau rekreasi lakukan diskusi bersama dengan batasan budget dan kriterianya, dapat diputuskan bersama dalam rapat.


Buat keteraturan dalam keluarga


jadwal kegiatan mengaji bersama, olahraga, pembagian peran untuk bebersih rumah tangga atau tugas individual (misalnya membereskan kamar masing2).


Contoh Kasus dalam Keluarga

  • Anak yang mudah terpancing emosinya, mudah kesal jika ada hal-hal yang mengecewakan dirinya, cenderung berbuat tindakan2 yang tidak menyenangkan di rumah, semisal: marah-marah/omel2. Ibu yang kurang peka dan kurang tegas dalam bersikap akan cenderung membiarkan emosi anak dengan mengabaikan/mendiamkan saja, bahkan kadang menunjukkan ketidakberdayaan. Remaja makin merasa tidak dipahami, makin banyak membuat ulah, bahkan kadang menyakiti perasaan ibu dan adiknya. Ayah bisa masuk dengan mendiskusikan apa yang dirasakan, namun sayang ayah tidak menegaskan batas, sehingga masalah terus berulang. Rasa tidak dipahami oleh ibu makin membesar hingga anak cenderung tenggelam dengan pola penyelesaian

  • Melaluil konseling, ayah dan ibu diajak memahami karakteristik kepiribadian remaja, remaja juga sama diberi penjelasan tentang perilaku yang dirasakannya dan bagaimana mengekspresikan secara tepat, agar orang tidak salah paham

  • Anak menyebutkan bahwa ia ingin lebih banyak didengarkan, enggan diceramahi/dinasehati (karena merasa sudah tahu) tapi perasaan yang sulit diredakan

  • Ibu belajar memberi respon yang lebih sesuai saat ada emosi yang dirasakan anaknya, anak sangat memerlukan perhatian penuh ibu, kesediaan ibu mendengarkan keluh kesahnya.

8 views0 comments

Recent Posts

See All